20 Juli 2011

Sistem Pendidikan kita adalah Penggagalan

Saya tergelitik untuk ikut mengkritisi sistem pendidikan bangsa kita. Apalagi saat ini ada kasus Ibu Siami yang harus menjalani kehidupan yang tidak mengenakkan akibat keberaniannya mengungkap sebuah ketidakjujuran. Mari kita tengok sekilas, Alif putra ibu Siami dipaksa oleh gurunya memberikan contekan kepada teman temannya. Alif pun mengadu kepada ibunya apa yang dilakukan oleh gurunya ini. Dan sebagai ibu, Siami pun tidak terima atas perlakuan sang guru terhadap anaknya. Dia pun mengadu ke Kepala Sekolah, namun tidak mendapat respon yang memuaskan. Ibu Siami pun mengadu ke Dik Nas, masih kurang memuaskan lalu akhirnya kasus ini menjadi besar setelah tercium media massa. Dan sang guru beserta sang kepala sekolah dikenai sanksi atas masalah ini. Dan tiba tiba kasus semakin membesar, para tetangga Ibu Siami ketakutan kalau kalau anak mereka juga akan kena sanksi, lalu mereka secara massal melakukan demo dan mengusir keluarga Ibu Siami dari rumahnya.
Dan akhirnya seperti kasus kesalahan massal lainnya, seakan akan suatu kesalahan dan pelanggaran kalau dilakukan secara massal maka akan dimaklumi. Dan pemerintah pun melakukan cara yang "arif" untuk memaklumi kesalahan massal ini. Secara tegas kita harus bisa bersikap bahwa apa yang dilakukan oleh sang guru, sang kepala sekolah dan para warga yang mengusir adalah SALAH. Tidak boleh kita memaklumi kesalahan walaupun itu dilakukan secara massal. Dan sesungguhnya, kasus guru "merekomendasi"kan muridnya untuk saling menyontek itu terjadi di banyak tempat. Toh akhirnya banyak yang berani melaporkan kasus seperti ini. Pertanyaanya adalah "Mengapa para guru justru mengajarkan hal yang sangat bertentangan dengan visi pendidikan ini?" Mengapa para guru tidak lagi pantas untuk digugu dan ditiru, tetapi menjadi wagu tur saru? Tentu tidak semua guru, tetapi tidak sedikit yang seperti ini.
Ada cerita bahwa dari kementrian pendidikan nasional telah mentargetkan pencapaian kelulusan. Angka yang ditargetkan ini yang kemudian dishare ke jajaran di bawahnya. Ini tidak salah. Apa jadinya kalau sebuah departemen tidak punya target? Kinerja itu diukur dari hasil. Tetapi manifestasi target ini yang kemudian dipahami keliru. Pejabat diknas akan mentarget kepala sekolah. Kepala sekolah mentarget guru. Semua demi sebuah angka pencapaian kelulusan. Sementara baik guru, kepala sekolah, maupun pejabat diknas mungkin belum terbiasa dengan sistem target ini. Mereka mungkin hanya tahu kalau gagal mencapai target akan "dimarahi". Apalagi alokasi dana pendidikan nasional sudah besar. Kalau dana besar kan harusnya hasil juga besar, betul?? Jadilah usaha usaha untuk membuat angka kelulusan setinggi tingginya kalau perlu 100% lulus. Ada usaha bagus, ada usaha yang tidak baik.
Tetapi jauh dari semua itu, saya teringat apa yang pernah Romy Raphael (ahli hipnotis) katakan waktu saya ikut sesi motivasi yang dipandu beliau. Romy mengatakan bahwa sistem pendidikan kita itu adalah sistem penggagalan. Tes, Ujian, atau apapun itu adalah usaha untuk menggagalkan, bukan memampukan. Contoh kita tes masuk sekolah. Itu untuk menggagalkan kita masuk. Kalau kita bisa mengerjakan, ya kita lolos dari "jebakan" penggagalan ini. Kalau nggak bisa, ya kita gagal masuk. Demikian juga tes naik kelas maupun tes kelulusan. Semua adalah usaha untuk menggagalkan. Semua bentuk tes, adalah dibuat untuk menilai semampu apakah kita. Bukan untuk mengevaluasi seberapa berhasil sistem pengajaran/pendidikan. Kalau dalam sistem pendidikan yang memampukan, sebuah tes atau ujian dipakai untuk melihat seberapa efektif sistem pengajaran dan pendidikan. Jadi yang gagal itu seberapa persen dari total. Dan yang berhasil berapa persen. Lalu yang gagal akan dibimbing intensif untuk mampu. Artinya dengan sistem pendidikan yang biasa kan sudah terbukti yang gagal sekian persen. Maka yang gagal tersebut harus dibuat sistem dan pola yang beda agar dia mampu. Hasil dari semua itu, semua anak didik menjadi mampu.
Jadi tes, ujian dan evaluasi yang lain bukan untuk mengukur kemampuan anak didik, melainkan mengukur keefektifan sistem pengajaran /pendidikan. Tentu tidak semua jenjang bisa menggunakan sistem seperti itu. Sistem penyaringan sangat diperlukan kalau sudah menjurus ke spesialisasi. Yang boleh kuliah di fakultas kedokteran dan menjadi dokter hanyalah orang orang yang memiliki kualifikasi yang dibutuhkan. Demikian juga bidang lain. Bahkan di sistem pendidikan yang saya alami dulu di ATMI St Mikhael Surakarta, kalau tidak naik kelas maka di DO. Ini jelas sistem pendidikan yang menggagalkan, menyaring. Tapi untuk spesialisai memang dibutuhkan yang seperti itu. Sementara untuk jenjang umum dari SD, SMP sampai SMU/SMK, yang dibutuhkan adalah sistem yang memampukan. Apalagi kalau dibilang Wajib Belajar 9 tahun. Maka tugas pemerintah adalah menyediakan pendidikan yang memampukan anak bangsa untuk mencapai jenjang 9 tahun tersebut. Bukannya digagalkan di tengah jalan.
Mari bersama sama kita mewujudkan sistem pendidikan yang memampukan bukan menggagalkan, demi kelangsungan generasi penerus nanti. Dirgahayu Indonesia, majulah bangsaku.

peluang usaha

1 komentar: